Postingan

Artikel Sastra

 TEKNIK MENULIS PUISI BERDASARKAN OBJEK Muklis Puna Menulis puisi berdasarkan objek merupakan  salah satu teknik menulis yang sangat mudah dilakukan oleh pemula.  Sebagai makhluk bumi tentunya setiap hari penulis dapat membidik objek - objek yang menarik.  Objek yang dimaksud bisa apa saja,  hal apa saja atau bahkan suasana apa saja.  Konteks objek dalam penulisan puisi tidak dipagari oleh makna leksikal yang ada dalam tata bahasa tradisional.  Namun kajian objek di sini adalah bersifat empiris ( bisa diinderawi)  Penulis yang sudah handal,  jika Ia mau merujuk pada objek,  maka hampir setiap saat dia bisa menghasilkan puisi.  Tentunya faktor psikologis,  psiologis dan kesehatan menjadi faktor pendukung dalam menulis.  Hal ini tidak hanya berlaku pada teknik menulis puisi berdasarkan objek.  Bagi pengajar,  guru,  instruktur atau penulis pemula tentunya dapat menggunakan teknik ini  dan diturunkan kepad...

Artikel Sastra

 WS.  RENDRA,  SOSOK  INSPIRATIF DALAM MENULIS PUISI Muklis Puna Siapa sih yang tak kenal sosok WS  Rendra dalam kancah sastra  Indonesia.  Jika berbicara  tentang sastra Indonesia,  berarti hampir dua puluh persen dari pembicaraan berisi tentang kepiawaan dan kehebatannya dalam meracik kata/diksi menjadi sebuah puisi.  Pernyair yang bernama asli Surendra Broto Rendra lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935. Ia adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, cerpen, scenario drama, dan esai sastra di berbagai media massa. Ia kerap dijuluki  “Burung Merak” karena sifatnya yang mirip dengan burung merak jantan yang suka pamer akan bulu indahnya. Namun, ia juga dikenal dengan sosok yang sangat jenaka dan baik hari serta suka membantu orang yang mengalami kesusahan.   Selanjutnya untuk dapat  meniru gaya penulis terkenal ini,  adakala baiknya pembaca memahami dulu tentang ciri dan keunikan...

Esai Sastra

 Catatan kecil  untuk Chendana Biru dalam Puisi " Sekali Lagi" Muklis Puna Penyair perempuan dengan nama pena Chendana Biru adalah salah satu  penyair perempuan  yang aktif di media sosial. Penulis mengenal nama ini lewat pertemanan  di akun FB.  Penyair ini memiliki bahasa puisi yang menguras adrenalin intuk memahaminya.  Secara kasat mata bahasa yang digunakaan memang memiliki sublimitas yang tingggi. Secara lambang bahasa, kelihatan transpran namun pertautan yang digunakan,  pembaca harus berkening kerut memahami isi dari puisi ini.   Misalnya dalam puisi "Sekli lagi' /aku hanya singgah sebentar, di tengah jalan berkabut, /menyapu kaca mobil, mengintip matahari di ujung bukit./ Coba perhatikan larik yang sudah dikutip di atas,  pembaca  jangan berpikir  bahwa larik itu hanya untaian kalimat biasa, akan tetapi menurut penulis itu tak biasa.  Memulai sebuah puisi dengan  larik yang sederhana, sesungguhnya penyai...

Opini

PENGHAPUSAN UN TEROBOSAN ATAU KEGAGALAN  DALAM DUNIA PENDIDIKAN Muklis Puna "Pendidikan Itu Menyalakan Bara Api,  Bukan Mengisi Bejana" Sudah menjadi tradisi pendidikan di negeri ini,  jika terjadi pergantian menteri,  maka kebijakan terhadap kehidupan pendidikan negeri juga tergantikan.  Entah pola pendidikan yang belum sistematis, entah juga ada kepentingan finansial di baliik hal tersebut.  Negeri ini sepertinya masih dianggap sebagai laboratorium yang menjanjikan.  Sebuah kebiasaan yang membumi dalam kancah birokasi pendidikan indonesia,  bahwa setiap pergantian menteri selalu saja dikuti dengan kebijakan baru.  Ada saja kebijakan lama yang harus ditukar dan dibongkar sesuai dengan pelaku pendidikan yang menjabat.  Hal seperti ini sudah terasa jengah di tengah kehidupan masyarakat pendidikan hari ini.  Penulis hanya menyampaikan suara- suara sumbang yang beredar di tengah suasana pendidikan yang seolah selalu membuat kontroversi...

Puisi Perjuangan

Gambar
KEPADA SERDADU  LUSUH Muklis Puna Kutulis sajak ini ketika  seragam kusammu menguap mesiu Barisan kisah berjejer di khatulistiwa, alur cerita penuh terjal bercadas Matahari menyalak di sanubarimu, berjibaku dengan waktu demi idealisme mengeram  dalam dada Kau usung angan dalam pangkuan menuju masa dalam pusara jiwa Deretan bukit barisan saksi bisu  kepiluanmu Pada pinggang -pinggang malam kau merebah dalam duka Potongan jiwa kau sandarkan pada bulan  di kubangan malam Kutulis sajak ini ketika angin gunung berganti haluan  Mengipas kabut, doyong berderak derak Engkau berjingrak -jingkrak pada pagi di bulan Mei Ransel kumuh, perisai hidup, peluru  rindu mengirim pesan pada belahan jiwa Kutulis sajak ini ketika.kota makin gempita di malam buta Orang orang mulai mengusir takut, mengupas kekalutan Siang tak lagi bergantung  matahari Malam.tak jua berpedoman bulan Hari-hari semakin garang, para serdadu pulang ke.kandang, Kau tak.lagi meradang Kutulis sa...

Renungan

Gambar
 SENJA DI BATANG USIA Muklis Puna Ada senja merapat pada jadad kelelahan Ia merambat menuruni batang usia Daun -daun kehidupan hampir lepas dari perekat Matahari diundang malam menuju peraduan Ia mendengkur selama bulan mengambil peran  Ada senja menempel pada aliran napas Kadang tersenggal menuju puncak  masa Malam mulai tampak pada rasi bintng timur Terlalu cepat ia merambat,  Aku belum berbenah Noda  masih merekat pada jiwa Ruang maya menculik rasa Aku digiring ke lembah Senja memang sudah menuruni bukit Burung pelintang menggaris langit Redup membungkus bumi Sayap- sayup desiran angin bernyanyi Berbisik tentang masa  Tentang waktu yang tergulung Tentang dada yang kerontang Tentang rasa yang terbuang Tentang cita yng menggantung Senja memang tak pilih tempat Senja memang tak kenal jasad Aku tak bisa mengendap Karena jiwa memang ada tuan-Nya Lhokseumawe,  27 Februari 2018

Renungan Tsunami

Gambar
 KETIKA LAMPUUK DALAM DIAM Muklis Puna Biru menderu mengelus  landainya pantai Sepagi ini kamu kesepian,  Angin lumpuh, mentari lembut membelai raga Cemara terpasak kaku dalam lumpur pasir Lampuuk...  Indah  dalam diam Jadi temann pelipur lara Semburat ombak bersahaja Satu dua nelayan bercanda dengan buih Mencari sesuap nasi yang mrengapung di antara karang Enambelas tahun berselang Engkau garang dan seram Tubuhmu menggigil dan  mual Muntah darah menyeruak ke mana saja Bersimbah ke daratan,  meluap dan melahap  rumah,  gubug dan gedung Mayat mayat berserakan bertelanjang  di selokan duka Auman mu dahsyat membahana,  dunia terperajat Lampuuk...  Sepagi ini aku sudah berada di terasmu Ketika angin masih mendengkur Bulan belum memompa pasang  Batu karang  sepi dari amukan badai Dalam diam engkau begitu indah Pasir putih terhampar bagai tikar bersulam perak Ketika bibir  pantai  dilumuri ombak  Aku menunduk...